Trump vs Rakyat Minnesota: Satu Tewas Ditembak, Negara Dituding Kehilangan Nurani

By Admin


nusakini.com, Minnesota (27/01/2026) — Tragedi penembakan Alex Jeffrey Pretti (37) bukan lagi sekadar insiden aparat. Peristiwa ini menjelma menjadi simbol benturan keras antara rakyat sipil dan negara di bawah kepemimpinan Donald Trump. Di jalanan Minnesota, Selasa (27/1/2026), peluru aparat federal memicu pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya kebijakan imigrasi ini dijalankan?

Laporan awal Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengungkap dua agen federal melepaskan tembakan ke arah Pretti dalam operasi penindakan imigrasi. Narasi resmi menyebut adanya perlawanan. Namun rekaman video—yang kini viral secara nasional—menampilkan wajah berbeda: seorang warga negara AS yang justru membantu perempuan sipil, sebelum disemprot gas dan akhirnya tewas ditembak.

Di titik inilah konflik politik terbuka muncul. Di satu sisi, pemerintahan Trump terus mendorong penindakan keras sebagai “penegakan hukum”. Di sisi lain, rakyat melihatnya sebagai eskalasi kekerasan negara terhadap warganya sendiri.

Kematian Pretti memicu ledakan kemarahan publik. Video demi video menunjukkan agen bersenjata mengepung warga sipil, ibu-ibu menangis sambil menggendong anak, hingga gas air mata dilempar di area pemukiman. Dalam satu rekaman, agen federal bahkan terdengar mengancam pengamat dengan kalimat yang kini menjadi simbol arogansi kekuasaan: “Saya akan menghapus suaramu.”

Bagi banyak warga Minnesota, ini bukan lagi soal imigrasi ilegal. Ini soal rasa aman, kemanusiaan, dan batas kekuasaan negara. Ketika seorang bocah lima tahun ditahan, ketika sekolah-sekolah berubah menjadi ruang ketakutan, garis pemisah antara kebijakan dan represi menjadi kabur.

Tekanan politik pun mulai menghimpit Trump. Di tengah badai kecaman, ia mengisyaratkan kemungkinan mengurangi pengerahan agen ICE di Minnesota. Namun sinyal itu justru dibaca sebagai tanda defensif—bukan empati.

Konflik merembet ke ranah internasional ketika agen ICE mencoba memasuki Konsulat Ekuador di Minneapolis. Protes resmi pemerintah Ekuador mempertebal kesan bahwa kebijakan imigrasi Trump tak hanya bermasalah secara domestik, tetapi juga diplomatik.

Di gedung DPR Negara Bagian Minnesota, suara rakyat mengeras. Guru, orang tua, dan pengawas sekolah memperingatkan bahwa razia ICE telah menciptakan trauma kolektif. “Anak-anak takut datang ke sekolah. Ini bukan keamanan, ini teror,” ujar guru Peg Nelson.

Kini, Minnesota menjadi cermin retak bagi pemerintahan Trump. Satu warga tewas, kepercayaan publik runtuh, dan pertarungan narasi kian tajam: apakah negara berdiri untuk melindungi rakyat, atau justru menundukkan mereka? (*)